Teaching Aids dengan Geogebra (2) : Alat Peraga Pembuktian Teorema Pythagoras – 2 (dari James Garfield Presiden AS)

Dilahirkan pada tanggal 19 November 1831 di sebuah pondok  di negara bagian Ohio, James Garfield adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya seorang petani, yang meninggal dunia pada saat Garfield berumur 2 tahun. Aktivitas masa kecil Garfield dihabiskan di ladang hingga ia berumur 16 tahun.

Setelah itu Garfield pergi ke sebuah kota di dekat desanya dan ia bekerja di kapal. Pendapatan dari hasil bekerja di kapal ia gunakan untuk membiayai pendidikannya.

keterangan gambar : Keluarga Presiden Garfield

Pada tahun 1856 ia menamatkan sekolah tingginya dan menjadi pengajar (dosen) dalam bidang bahasa dan sastra kuno selama 3 tahun. Di usia 28 tahun (1859), Garfield terpilih menjadi anggota senat negara bagian Ohio mewakili partai republik.

Ketika perang saudara di Amerika pecah (1861), James A. Garfield mengundurkan diri dari dunia politik, untuk turut mendirikan resimen tentara sukarela Amerika Serikat. Pada tahun 1863, dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal, Garfield mengakhiri karier militernya ketika ia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS, dan ia terus terpilih kembali  selama 18 tahun berturut-turut.

Pada tahun 1880, Garfield terpilih menjadi anggota senat AS, tetapi pada tahun yang sama pula ia menjadi calon presiden AS dari partai republik. Garfield tidak pernah menjalankan tugas sebagai senator, karena ia terpilih menjadi Presiden AS.

keterangan gambar : Presiden Garfield tertembak pada tahun 1881

Pada tahun 1881, empat bulan setelah ia dilantik menjadi presiden AS, Garfield ditembak di stasiun kereta api di Washington D.C oleh penderita gangguan jiwa yang ingin jadi pegawai pemerintahan. Selama tiga bulan ia sakit parah dan tidak pernah pulih kembali. Presiden Garfield menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 19 September 1881. [Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/James_A._Garfield ]

Berikut ini adalah salah satu kontribusinya terhadap pembuktian Teorema Pythagoras :

Diketahui segitiga siku-siku ABC,

dengan titik pusat A, segitiga ABC diputar sejauh 90 derajat berlawanan arah jarum jam sehingga di peroleh segitiga A’B’C’ seperti pada gambar berikut,

selanjutnya translasikan segitiga A’B’C’ sejauh C’A+AB ke kanan, dan tarik garis dari titik C ke B”, sehingga diperoleh trapesium siku-siku

untuk membuat peragaan dengan geogebra , ikuti tutorial berikut :


Setelah membuat peragaan untuk visualisasi pembuktian teorema Pythagoras, selanjutnya kita akan membuat peragaan step by step untuk langkah pembuktian secara aljabar, seperti di bawah ini,

Luas trapesium siku-siku (pada ruas kiri) sama dengan ‘luas segitiga dengan alas a dan tinggi b’ tambah  ‘luas segitiga dengan alas c dan tinggi c’ tambah ‘luas segitiga dengan alas b dan tinggi a’ (pada ruas kanan)

adapun langkah-langkahnya dapat diikuti pada tutorial geogebra berikut :

Hasil pembuatan alat peraga bukti teorema pythagoras dari James A. Garfield dalam file geogebra (GGB) dapat anda download di link ini : http://www.filesonic.com/file/4297768805/postinggarfield.ggb

Selamat mencoba!

Teaching Aids dengan Geogebra (2) : Alat Peraga Pembuktian Teorema Pythagoras – 1

Salah satu teorema yang paling terkenal di pelajaran matematika sekolah adalah teorema Pythagoras. Nama teorema ini dinisbahkan pada Pythagoras, karena bukti formal tentang teorema ini ditemukan oleh pythagoras. Walaupun fakta penggunaan sehari-sehari pada saat itu, rumus tersebut telah ada sebelum pythagoras membuktikannya secara formal.

Siapakah Pythagoras? Pythagoras adalah seorang filsuf dan ahli matematika yang hidup pada tahun 582 SM – 496 SM. Selain dikenal sebagai “bapak bilangan”, beliau banyak memberikan sumbangan yang penting terhadap perkembangan ilmu filsafat dan ajaran keagamaan pada akhir abad ke-6 SM. Namun kehidupan dan ajarannya tidak begitu ‘jelas’, akibat banyaknya legenda dan kisah-kisah buatan mengenai dirinya.

Salah satu peninggalan Pythagoras yang terkenal adalah teorema Pythagoras, yang menyatakan bahwa kuadrat hipotenusa dari suatu segitiga siku-siku adalah sama dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya (sisi-sisi siku-sikunya).

Pythagoras dan murid-muridnya percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini berhubungan dengan matematika, dan merasa bahwa segalanya dapat diprediksikan dan diukur dalam siklus beritme. Ia percaya keindahan matematika disebabkan segala fenomena alam dapat dinyatakan dalam bilangan-bilangan atau perbandingan bilangan. Terdapat legenda yang menyatakan bahwa ketika muridnya Hippasus menemukan bahwa \sqrt{2}, hipotenusa dari segitiga siku-siku sama kaki dengan sisi siku-siku masing-masing 1, adalah bilangan irasional, murid-murid Pythagoras lainnya memutuskan untuk membunuhnya karena tidak dapat membantah bukti yang diajukan Hippasus.

[Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pythagoras]

Saat ini, ada sekitar 300 lebih bukti tentang teorema pythagoras, sebagian diantaranya dapat anda pelajari di situs www.cut-the-knot.org  .

Pada posting ini, saya mengajak anda untuk membuat peragaan salah satu bukti teorema Pythagoras dengan geogebra . Bukti teorema pythagorasnya adalah sebagai berikut, pada gambar (1) luas persegi yang putih adalah c kuadrat, kemudian kita transformasikan gambar (1) ke gambar (2) dengan rotasi dan translasi, sehingga luas daerah yang putih adalah a kuadrat ‘tambah’ b kuadrat.

gambar (1)

gambar (2)

File geogebra untuk pembuktian teorema Pythagoras ini, dapat anda dowload di link : http://www.filesonic.com/file/4234151325/rumuspythagoras.ggb

Untuk proses pembuatan alat peraga dengan geogebra dapat anda ikuti tutorial berikut ini,

Selamat mencoba!

Teaching Aids dengan Geogebra (1) : Alat Peraga Pembuktian Jumlah Sudut dalam Segitiga

Pertama kali mendengar kata “Teaching Aids” saya agak bingung sampai dahi berkerut , dan dalam hati saya bergumam  “kok  penyakit diajarkan?” :). Kemudian dengan rasa penasaran saya search dengan Google, bertemulah dengan situs www.sil.org  yang memberikan definisi “Teaching Aids“.


Berdasarkan definisi di atas, saya menggunakan kata “Teaching Aids” sebagai padanan untuk alat bantu mengajar guru di depan kelas. Mengapa saya gunakan  istilah dalam bahasa Inggris? alasannya, supaya lebih singkat menyebutnya – tidak terlalu panjang 🙂 .

Selanjutnya, apa itu “Geogebra”?, Geogebra adalah nama perangkat lunak matematika dinamis. Perangkat lunak ini dikembangkan pertama kali oleh Markus Hohenwarter .

Perangkat lunak geogebra bebas untuk dicopy dan digunakan tanpa harus membayar (FOSS). Dengan Geogebra seorang guru matematika tidak perlu lagi menggunakan Flash –  yang harus kita beli dengan harga mahal – untuk membuat simulasi.

Jadi “Teaching Aids dengan Geogebra” adalah alat bantu mengajar guru di depan kelas dengan menggunakan geogebra. Meskipun perangkat lunak ini khas matematika, pada beberapa posting ke depan saya akan memberikan contoh penggunaan geogebra untuk guru mata pelajaran selain matematika.

Pada posting pertama seri “Teaching Aids dengan Geogebra”, saya akan membahas tentang teknik membuat peragaan pembuktian jumlah sudut dalam segitiga dengan perangkat lunak geogebra. Sebelumnya, anda sebaiknya mendownload perangkat lunak geogebra di http://www.geogebra.org/cms/en/download , ada dua pilihan, versi instal dan portable.

Pada tutorial ini saya menjelaskan, bagaimana membuktikan secara visual bahwa jumlah sudut dalam segitiga sama dengan 180 derajat. Langkah-langkahnya : pertama, buat segitiga ACD, kemudian tentukan titik-titik tengah sisi AC dan sisi AD, dimana kedua titik tersebut akan menjadi titik pusat rotasi segitiga ACD. Langkah berikutnya, lakukan rotasi pertama untuk segitiga ACD dengan titik pusat titik tengah AD dan berlawanan arah jarum jam, kemudian lakukan rotasi kedua untuk segitiga ACD dengan titik pusat titik tengah AC dan searah jarum jam.

Untuk mempelajari pembuatan peragaan jumlah sudut dalam segitiga, silakan mengikuti tutorial berikut ini,

Link download untuk file geogebra (ggb) : http://www.filesonic.com/file/4165668785/jumlah180.ggb

Blog “Jelajah Matematika”

Salam bagi pengunjung blog ini!

Tulisan ini merupakan posting pertama, setelah blog https://abdulkarim.wordpress.com saya “make over”.  Judul dari blog ini saya ubah, sebelumnya “Kareem Math and Multimedia Tutor” menjadi “Jelajah Matematika”.  Meskipun area yang akan disentuh tetap sama, yaitu Matematika dan Multimedia, tetapi ada perubahan dalam orientasi. Sekarang saya akan fokus dalam pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran matematika, meskipun demikian saya akan tetap meluangkan waktu dan tenaga untuk  berbagi dengan guru-guru mata pelajaran lain berupa tutorial pembuatan MPI, pembuatan template dan lain-lain, jangan khawatir … 🙂

Mengapa judul blognya “Jelajah Matematika”?. Saya mengambil kata jelajah untuk padanan kata bahasa inggris, ‘explore’ yang bermakna menyelidiki, menjelajah, memeriksa, mengadakan penyelidikan atau mengedari [Google Translate], dan menurut http://www.merriam-webster.com/dictionary/explore

Dengan judul ‘Jelajah Matematika’, saya hendak menggambarkan, memberikan cara pandang dan mewacanakan kepada para pengunjung blog ini bahwa matematika adalah sebuah subyek yang luas, menarik dan menantang. Kata ‘Jelajah’ di sini, menyiratkan juga bahwa saya akan menggunakan teknologi dalam penyelidikan terhadap konsep-konsep matematika, agar kita terhindar dari ‘rutinitas’ menghitung yang sering membuat bosan murid-murid dalam pembelajaran matematika di kelas. Matematika tidak sama dengan ‘menghitung’, matematika adalah sebuah subyek pelajaran yang jauh lebih luas dari sekedar menghitung. Jadi pertanyaannya, mengapa guru dan murid selalu menghabiskan setiap pertemuannya dengan hanya sekedar hitung menghitung? … bahkan salah satu dosen saya di ITB dulu (Prof Bana Kartasasmita) pernah mengatakan “bahwa urusan menghitung adalah pekerjaan  kuli”. Di blog ini juga (dengan segala daya upaya yang akan saya kerahkan) saya akan memberikan contoh-contoh penggunaan teknologi dalam pembelajaran matematika. Tegasnya saya ingin mempengaruhi dan mengarahkan pendidikan matematika di Indonesia untuk menggunakan Teknologi dalam pembelajaran. Kondisi dan situasi sudah jauh berubah. Saya ingin guru-guru matematika di Indonesia tidak ‘gagap teknologi’. Menurut hasil survey bank dunia dalam “Inside Indonesia’s Mathematics Classrooms”, Indonesia merupakan negara yang terendah dalam penggunaan teknologi (kalkulator) dalam pembelajaran matematika. (karena di ujian nasional tidak diperbolehkan?)

Apa rujukan saya untuk penggunaan teknologi dalam pembelajaran matematika? Saya hanya seorang guru matematika di SMP-SMA, saya bukan periset atau peneliti pendidikan matematika, tapi mengapa saya berani melawan arus pendidikan matematika di Indonesia pada umumnya?. Jawabannya yang pertama, intuisi saya (sebagai seorang pendidik yang gelisah terhadap perkembangan pendidikan matematika di Indonesia saat ini). Jujur saja saya mengatakan bahwa pendidikan matematika di Indonesia tidak jelas, kalau tidak mau dikatakan kacau balau, salah satu penyebab utamanya adalah Ujian Nasional Matematika (saya tidak akan membahas hal ini di sini). Matematika merupakan subyek yang sangat populer di dunia ini, dalam berbagai bidang keilmuan dan kehidupan, tetapi tidak di “sekolah” khususnya di Indonesia, semakin banyak anak-anak yang tidak suka dengan Matematika. Jawaban yang kedua, saya merujuk kepada standar yang ditetapkan oleh asosiasi guru matematika di Amerika Serikat (NCTM), karena Indonesia tidak mempunyai standar tentang penggunaan teknologi dalam pembelajaran matematika.

NCTM Position :

Technology is an essential tool for learning mathematics in the 21st century, and all schools must ensure that all their students have access to technology. Effective teachers maximize the potential of technology to develop students’ understanding, stimulate their interest, and increase their proficiency in mathematics. When technology is used strategically, it can provide access to mathematics for all students.

Calculators and other technological tools, such as computer algebra systems, interactive geometry software, applets, spreadsheets, and interactive presentation devices, are vital components of a high-quality mathematics education. With guidance from effective mathematics teachers, students at different levels can use these tools to support and extend mathematical reasoning and sense making, gain access to mathematical content and problem-solving contexts, and enhance computational fluency. In a well-articulated mathematics program, students can use these tools for computation, construction, and representation as they explore problems. The use of technology also contributes to mathematical reflection, problem identification, and decision making.

The use of technology cannot replace conceptual understanding, computational fluency, or problem-solving skills. In a balanced mathematics program, the strategic use of technology enhances mathematics teaching and learning. Teachers must be knowledgeable decision makers in determining when and how their students can use technology most effectively. All schools and mathematics programs should provide students and teachers with access to instructional technology, including appropriate calculators, computers with mathematical software, Internet connectivity, handheld data-collection devices, and sensing probes. Curricula and courses of study should incorporate instructional technology in learning outcomes, lesson plans, and assessments of students’ progress.

sumber :  http://www.nctm.org/about/content.aspx?id=14233

Harapan saya, dengan “Jelajah Matematika”, saya bisa sedikit mewarnai pendidikan matematika di Indonesia. Mencerahkan dan membalikkan pandangan guru-guru matematika di Indonesia yang selama ini ‘anti Tekonologi’, (mudah-mudahan bukan karena ‘Gaptek’ … 🙂   Semoga blog ini dapat memberikan manfaat bagi guru-guru matematika khususnya dan komunitas pendidikan di Indonesia pada umumnya.

Selamat berbagi dan berkarya!