Wolfram Alpha Nara Sumber, Bagaimana dengan Guru …?

Banyak cara yang dapat ditempuh untuk mendapatkan informasi dan mencari penyelesaian masalah di Internet. Cara yang paling populer saat ini adalah dengan menggunakan mesin pencari (search engine) seperti Google. Google mencari halaman web untuk kata kunci yang kita berikan  dan menampilkan hasil pencarian berupa link ke halaman web yang relevan dengan kata kunci tersebut. Saking terkenalnya seringkali kita mendengar plesetan, jika kita kehilangan apapun, maka tanyakan saja pada mbah Google! -nyaris mengalahkan popularitas ‘mbah dukun’ di masyarakat kita.

situs Google : www.google.co.id

Cara lain adalah dengan menggunakan WolframAlpha, yang satu ini bukan mesin pencari, tapi mesin komputasi pengetahuan (computational knowledge engine) .

situs Wolfram Alpha : www.wolframalpha.com

Apa perbedaan Google dengan Wolfram Alpha? Google adalah mesin pencari sedangkan Wolfram Alpha merupakan mesin komputasi, google tidak menjawab pertanyaan tapi memberikan link terhadap informasi di suatu halaman web lain, sedangkan Wolfram Alpha akan menjawab permasalahan yang berkaitan dengan kata kunci yang diberikan. Dan perbedaan yang lebih jelas bagi penulis sebagai guru matematika, Wolfram Alpha dapat menjawab persamaan-persamaan matematika sementara google tidak!

Kehadiran Wolfram Alpha mestinya bisa mengubah situasi dan memperkaya pembelajaran di ruang kelas matematika. Jika selama ini peran guru sangat dominan dalam kegiatan pembelajaran, nampaknya Wolfram Alpha dapat menggeser dan menggantikan salah satu peran yang saat ini banyak dilakukan oleh guru matematika, yaitu sebagai nara sumber belajar. Kemampuan Wolfram Alpha sangat menakjubkan, hampir semua topik dalam kurikulum matematika sekolah bisa tercover. Guru-guru matematika saat ini seharusnya bisa lebih kreatif dalam menyajikan masalah, agar lebih menantang dan menarik minat murid, tidak menyajikan soal-soal rutin yang bersifat “hafalan” karena hal tersebut dapat dijawab dengan mudah oleh Wolfram Alpha. Guru harus mampu mengemas permasalahan dalam bentuk “word problem”, murid-murid tidak dapat secara langsung menggunakan alat bantu sebelum menerjemahkan ke dalam permasalahan matematika. Sehingga fokus pembelajaran matematika bisa bergeser ke arah kemampuan penalaran yang lebih tinggi ketimbang terjebak dengan hal-hal prosedural hitung-menghitung yang tidak bisa menyiapkan murid  menghadapi masalah-masalah baru yang lebih kompleks dan rumit.

Menurut Conrad Wolfram dalam pembelajaran matematika, sebaiknya murid dilatih untuk belajar membuat pertanyaan yang benar (merumuskan permasalahan dalam pertanyaan), menerjemahkan permasalahan nyata ke dalam model matematika, melakukan perhitungan untuk menyelesaikan permasalahan matematika, dan terakhir menginterpretasikan kembali solusi matematika ke solusi nyata sekaligus melakukan verifikasi. Selama ini kurang lebih 80% waktu pembelajaran dihabiskan dalam melakukan perhitungan, seharusnya ini diserahkan kepada komputer, dan murid diarahkan untuk memikirkan pada tiga hal lain selain perhitungan.

Berikut ini penulis tampilkan contoh penggunaan wolfram alpha dalam materi sistem persamaan kuadrat dan linear

Pada contoh di atas, diperlihatkan kemampuan wolfram alpha dalam melakukan perhitungan simbolik. Wolfram Alpha tidak sekedar memberikan jawaban, tapi juga menunjukkan proses penyelesaian langkah perlangkah (step by step), seperti contoh di bawah ini.

Dan berikut ini salah satu tutorial video yang penulis buat tentang wolfram alpha :

Mengkritisi Kurikulum Matematika SMA : Ujian Nasional vs Computer Algebra Systems.

“UN itu sesat!” pernyataan yang cukup mengejutkan dilontarkan oleh seorang guru besar matematika ITB, Prof. Dr. Iwan Pranoto, dalam seminar yang diadakan dalam rangka Hardiknas di Gedung Indonesia Menggugat, Rabu (2/5/2012). Mengapa beliau sampai memberikan pernyataan seperti itu? Ada apa dengan soal ujian nasional matematika kita? Menurut beliau, soal ujian nasional tidak mendidik siswa untuk menggunakan nalar atau akalnya, tapi lebih menuntut atau memaksa siswa untuk menghafal. Dengan menunjukkan contoh soal matematika yang diujikan pada UN, beliau berpendapat bahwa soal tersebut mustahil dikerjakan dalam waktu singkat kecuali menghafalkan rumus secara cepat yang diajarkan dalam sekolah atau bimbingan belajar. Seharusnya, soal yang ditanyakan mengajak siswa untuk memahami masalah yang dihadapi.

Beliau pun mengungkapkan hasil riset yang dilakukan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Harvard University yang menyebut dua kemampuan yang wajib dimiliki manusia masa depan adalah berpikir kompleks dan komunikasi. Berpikir kompleks adalah kemampuan memecahkan masalah yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Kesimpulan tersebut diambil karena prediksi bahwa permasalahan di masa mendatang akan sangat dinamis. Namun, yang dilakukan UN saat ini justru sebaliknya.

Salah satu pernyataan beliau pada seminar tersebut, yang penulis garis bawahi dan ada kaitannya dengan tujuan dituliskannya artikel ini adalah menghafal merupakan kegiatan bernalar paling rendah, biarkan itu ditangani komputer. Seharusnya yang didorong adalah bernalar yang tidak bisa dilakukan komputer.

Di level dunianya, hal senada dilontarkan oleh Conrad Wolfram tentang pendidikan matematika yang keliru. Menurutnya, matematika terbagi menjadi kurang lebih empat tahap. Tahap pertama, dimulai dengan bagaimana menanyakan pertanyaan yang benar. Mengapa? Jika kita tidak dapat mengajukan pertanyaan dengan benar tentunya kita hanya akan mendapatkan jawaban yang salah. Tahap kedua, mengambil pertanyaan (masalah) tersebut dan mengubahnya dari pertanyaan dunia nyata menjadi pertanyaan matematika. Tahap ketiga, melakukan perhitungan untuk mendapatkan sebuah jawaban dalam bentuk matematis. Tahap keempat, mengubahnya kembali ke dunia nyata dan memastikan (verifikasi) apakah hal tersebut sudah menjawab pertanyaan yang diajukan pada tahap pertama.

Menurutnya pula, ada hal yang janggal dalam pendidikan matematika kita, yang menghabiskan waktu kurang lebih 80% untuk mengajarkan langkah ketiga (perhitungan) pada siswa-siswa di kelas secara manual. Padahal hal tersebut dapat dilakukan oleh komputer, yang jelas akan lebih baik dan unggul dari siapapun meski telah berlatih selama bertahun-tahun. Conrad Wolfram berpendapat, seharusnya langkah ketiga dilakukan oleh komputer, sedangkan siswa belajar langkah satu, dua dan empat.

Sejak tahun 1994 (kurang lebih 18 tahun) penulis menggunakan perangkat lunak maple dan mathematica untuk keperluan membuat soal, mencari jawaban soal matematika dan alat bantu mengajar di depan kelas di beberapa SMA di Bandung. Bahkan, pada pertengahan tahun 2000, penulis memberikan pelatihan untuk guru SD – SMP Nasima semarang dan mengajar matematika dengan maple (khususnya untuk memperkenalkan geometri) kepada murid-muridnya. Maple dan Mathematica adalah dua perangkat lunak yang mengusung teknologi “Computer Algebra Systems”. Dengan kedua perangkat lunak tersebut kita dapat melakukan perhitungan numerik, perhitungan simbolik dan membuat grafik, dimana ketiga hal tersebut seringkali menghabiskan waktu pertemuan antara guru dan murid dalam pembelajaran di kelas, dan tidak ada waktu lagi untuk mempelajari memikirkan hal lain selain rutinitas tersebut. Sebagai catatan, ketiga hal tersebut “diduga” menjadi biang keladi pembelajaran matematika di kelas “kering dan membosankan”, tentunya juga menjadi “teror” bagi sebagian besar murid yang tidak menyukai matematika. Jadi berdasarkan pengalaman ini sebagai guru matematika yang pernah mengajar di semua jenjang dari tingkat SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi, jelas penulis sangat mendukung pendapat Prof. Dr. Iwan Pranoto dan Conrad Wolfram salah seorang pendiri Wolfram.Inc pembuat perangkat lunak Mathematica.

Untuk memperlihatkan sejauh mana komputer – computer algebra systems – dalam menangani masalah matematika dan sebagai bahan untuk mengkritisi kurikulum matematika sekolah kita. Penulis akan menyajikan pembahasan sekitar 20 soal ujian nasional matematika SMA IPA tahun 2012 dengan maple 16. Dan faktanya, nyaris hampir semua soal dapat dikerjakan oleh komputer. Yang menjadi pertanyaan untuk direnungkan adalah apakah murid-murid kita hanya dipersiapkan untuk belajar hal yang dapat dilakukan oleh komputer, tidakkah ada hal lain yang lebih tinggi dan baik untuk dipikirkan dan dipelajari dalam matematika (daripada hanya sekedar belajar hitung-menghitung) sehingga dikemudian hari kelak pengetahuan dan ketrampilan tersebut akan bermanfaat bagi kehidupan murid-murid kita?

Pembahasan Soal Ujian Nasional Matematika SMA IPA 2012 dengan Maple 16.

1. Materi Eksponen (bilangan berpangkat)

2. Materi Bentuk Radikal (bentuk akar)

3. Materi Persamaan Kuadrat 1

4. Materi Persamaan Kuadrat 2

5. Materi Sistem Persamaan Linear

6. Materi Suku Banyak dan Teorema Sisa

7. Materi Komposisi Fungsi

8. Materi Program Linear

9. Materi Matriks

10. Materi Vektor 1

11. Materi Vektor 2

12. Materi Vektor 3

13. Materi Transformasi Geometri

14. Materi Pertidaksamaan Eksponen

15. Materi Barisan dan Deret

16. Materi Trigonometri

17. Materi Limit Fungsi

18. Materi Penerapan Turunan

19. Materi Integral Luas

20. Materi Integral Volume Benda Putar

Belajar dari Pak Philip Rekdale – Pakar Teknologi Pendidikan

Diskusi ini dimulai dengan posting saya tentang artikel “Is Education the Next Industry That Will Be Killed by the Internet?” di wall-nya Pak Philip Rekdale.

Abdul Karim :

bagaimana dengan artikel ini Pak Philip …

http://www.forbes.com/sites/timworstall/2011/12/19/is-education-the-next-industry-that-will-be-killed-by-the-internet/

Philip Rekdale :

@Abdul Karim – Terima kasih
Ya, saya suka membaca artikel begitu. Sudah banyak artikel begitu yang muncul sejak awal tahun 90an (sebelum kita sudah cukup berpengalaman dengan ICT dalam pendidikan). Dan karena masih ada artikel begitu yang muncul itu jelas bahwa banyak orang belum mengerti (atau tidak mau mengerti) apa itu pendidikan.

Ada banyak kepentingan sendiri terkait Bisnis Besar secara umum dan Industri ICT kalau mereka dapat “menjual” konsep itu ke masyarakat.

Bukan hanya secara langsung $, tetapi oleh kontrol dan oleh kekuasaan untuk mengatur dan kontrol pendidikan 100% (sekarang dengan pendidikan di sekolah “kontrol-nya sangat dipengaruhi” oleh banyak manusia yang lain – masih aman). Tetapi kalau mereka dapat mengatur pendidikan 100% mereka dapat kontrol pikiran dan perilaku masyarakat-nya 100% (frightening).

Untuk pemerintah keuntungan mereka adalah mereka dapat membentuk dan kontrol pikiran rakyat-nya.

Untuk bisnis mereka dapat membentukkan pasar konsunerism 100% (consumer market oriented). Hanya perlu melihat efek media sekarang untuk membentuk konsumerism. Blackberry yo! 🙂

Web-based learning adalah sangat terkait dengan kepercayaan bahwa mendidik adalah proses “transfer of knowledge”, oleh yang belum mengerti bahwa itu “proses yang kita melaksanakan” yang adalah pendidikan, sebetulnya.

Seperti reference “Oleh: Ir. Ratna Megawangi, M.Sc., Ph.D.

“Education is the kindling of a flame, not the filling of a vessel”. (Pendidikan adalah untuk menyalakan obor, bukan untuk mengisi bejana) – Socrates.”
http://teknologipendidikan.com/keilmuan.html

Ya, tujuan pendidikan adalah “perkembangan manusia”, bukan mencapaikan “tingkat pengetahuan yang standar” (seragam). Itu Proses-nya Yang Penting! Ini salah satu masalah utama di Indonesia di mana oleh pembelajaran-pasif yang menuju standar tertentu saja, yang dinilaikan oleh ujian yang kebanayakan berbasis-hafalan.

Kalau pendidikan di tingkat PT di negara kita diganti dengan web-based learning mungkin beda-nya tidak begitu terasa karena sekarang pembelajaran-nya adalah sangat pasif, dan 60% lulusan menganggur, jadi PT sangat tidak terfokus kepada mengembangkan orang, dan “pengetahuan tidak begitu bermanfaat tanpa orang yang bermutu, mampu, kreatif, invatif, dll”.

Kalau sekolah atau kampus diganti dengan pembelajaran oleh ICT itu hanya akan mengulangkan masalah dengan pembelajaran-pasif (berpusat-guru diganti dengan berpusat-teknologi) dan masih kebanyakan berbasis-hafalan. E-Learning lebih parah lagi karena 100% kontrol pembelajaran dan outcomes (Behaviourism), jadi membunuh kreativitas dan inovasi (self-expression). ICT bukan solusi-nya. Metodologi yang bermutu dan guru/dosen yang mampu adalah solusi-nya.

Itu proses pendidikan yang dicapaikan oleh metodologi yang mengembangkan manusia-nya yang memberdayakan, bukan pengetahuan… Pengetahuan mahasiswa/i kita adalah cukup baik, tetapi kemampuan untuk menggunakan pengetahuan secara kreatif pada umum adalah rendah, jadi menganggur.

Kata-nya “Knowledge (pengetahuan) Is Power”, dan “Wisdom (Kekuatan Mental) Is Strength” (pre-bahasa). Power (kekuasaan) belum tentu menuju yang baik. Tetapi wisdom (kekuatan mental) akan memasitkan bahwa kita menuju masa depan yang lebih baik. Meningkatkan Kekuatan Mental Dan Kita Juga Akan Sangat Powerful… Maupun dapat membentuk masa depan sendiri (mandiri).

Yang “memperkayakan orang, maupun negara” adalah pendidikan yang menghargai variasi dalam pikiran dan perspektif supaya dapat menstimulasikan imaginasi dan kreativitas yang muncul dalam proses-nya.

Ya, artikel itu hanya mencerminkan “kepentingan tertentu” oleh bisnis yang akan terus menjadi tantangan untuk perkembangan pendidikan (karena retorika-nya adalah sangat manis 🙂

Salam Pendidikan

Abdul Karim :

bagaimana dengan contoh dari MIT berikut ini Pak?

http://ocw.mit.edu/index.htm

Philip Rekdale :

@Abdul Karim – Terima kasih. Bagus…. Memberikan bahan gratis. 🙂
Salam Pendidikan

Abdul Karim :

‎@Philip Rekdale : permasalahan umum di Indonesia adalah kwalitas pembelajaran yang rendah yang disebabkan oleh mutu SDM guru dan dosen yang rendah pula di samping sarana dan prasarana yang tidak memadai untuk pembelajaran (kecuali di sekolah-sekolah elit). Adalah suatu berkah yang tidak ternilai harganya, melalui ‘Internet’ saya dan orang-orang yang ingin meningkatkan pengetahuannya, dapat memperoleh sumber-sumber belajar dari universitas-universitas terkemuka di dunia semacam MIT, Harvard, Barkeley dan lain-lain. Jadi manfaat yang tidak terbantahkan dengan e-learning adalah kita bisa terhubung dengan sumber-sumber belajar dari tempat-tempat belajar terbaik di dunia. Yang tidak saya peroleh- seumur hidup saya-dari guru dan dosen yang bertatap muka secara langsung. Karena di Indonesia yang bernilai adalah “Ijazah dan gelar-gelar akademis’nya, bukan isi ‘otak’ dan pengetahuannya. Sehingga pada umumnya sebagian besar orang dengan sukarela membeli ijazah tanpa harus belajar … 🙂 … (di Indonesia bisnis pembuatan skripsi dan thesis menjamur)
Mengenai masalah ‘bisnis pendidikan’, saya pikir tidak masalah asalkan memang betul-betul dapat membuat orang jadi lebih pintar. Dibandingkan ‘klaim pendidikan yang tidak berbisnis’ tapi malah membuat kebanyakan orang tetap bodoh.
Ini ‘Indonesia’ pak Philip … 🙂

Philip Rekdale :

@Abdul Karim – Terima kasih

Re: “permasalahan umum di Indonesia adalah kwalitas pembelajaran yang rendah yang disebabkan oleh mutu SDM guru dan dosen yang rendah”

Kayaknya isu utama adalah kita tidak mempunyai Metodologi Nasional yang menuju perkembangan SDM yang bermutu, dan guru-guru sendiri adalah produk dari pembelajaran-pasif (menuju ujian saja) dan tidak dapat melihat masalahnya. Masalah sangat terkait kebijakan yang tidak konsisten.

Re: “pula di samping sarana dan prasarana yang tidak memadai”

Ya, lebih dari itu: “Puluhan ribu sekolah dalam keadaan rusak atau ambruk termasuk 70% sekolah di DKI Jakarta – Di Jakarta Saja, 179 Sekolah Tidak Layak Pakai! – Hampir 80% Gedung Sekolah di Pesawaran Rusak, dll”,”Jumlah ruang kelas (SD dan SMP) rusak berat juga meningkat, dari 640,660 ruang kelas (2000-2004 meningkat 15,5 persen menjadi 739,741 (2004-2008).” (ICW) – Kelihatannya makin lama makin banyak sekolah yang rusak!

Dan selama korupsi dapat jalan lancar mengatasi masalah ini saja gimana? “Korupsi terjadi di semua tingkatan dari KemDikNas, dinas pendidikan, hingga sekolah” – “Dinas pendidikan telah menjadi institusi paling korup dan menjadi isntitusi penyumbang koruptor pendidikan terbesar dibanding dengan institusi lainnya.( ICW)

Re: “Adalah suatu berkah yang tidak ternilai harganya, melalui ‘Internet’ saya dan orang-orang yang ingin meningkatkan pengetahuannya, dapat memperoleh sumber-sumber belajar dari universitas-universitas terkemuka di dunia semacam MIT, Harvard, Barkeley dan lain-lain.”

Ini sangat baik, semua guru dan dosen harus bertangungjawab untuk meningkatkan kemampuan dan ilmu terus.

Re: “di Indonesia yang bernilai adalah “Ijazah dan gelar-gelar akademis’nya, bukan isi ‘otak’ dan pengetahuannya.”

Setuju tetapi pengetahuan sendiri tidak begitu bermanfaat (seperti kita dapat melihat dari jumlah lulusan yang menganggur) tanpa “olahraga otak” dalam pembelajaran oleh metodologi yang menstimulasikan.

“Education is the kindling of a flame, not the filling of a vessel”. (Pendidikan adalah untuk menyalakan obor, bukan untuk mengisi bejana) – Socrates.”

Re: “di Indonesia bisnis pembuatan skripsi dan thesis menjamur”

Ya, saya sudah lama coba menghadapi masalah ini dalam saran-saran saya ke mahasiswa/i http://pojokguru.com/skripsi.html

Re: “Mengenai masalah ‘bisnis pendidikan’, saya pikir tidak masalah asalkan memang betul-betul dapat membuat orang jadi lebih pintar.”

Konsep “pintar” menurut bisnis adalah apa? Beli dan menggunakan produk mereka? Mereka mengutamakan bisnis-nya kan? Sudah ada banyak contoh di sini…..

Tetapi barangkali bisnis kurang bahaya dibanding “pemerintah kita” yang dapat kontrol pendidikan 100% 🙂

Jangan salah, saya tidak melawan e-learning atau memakai Internet di luar kelas (itu disebut terus dari awal), saya hanya ingin kita melaksanakan pendidikan yang terbaik dan dapat menembangkan kita sebagai bangsa yang cerdas (bukan robot) di dalam kelas.

Kita hanya dapat meningkatkan “cerdas-nya rakyat” kita kalau kita dapat meningkatkan kemampuan menggunakan otaknya (thinking skills), bukan oleh tambah pengetahuan saja (seperti di negara maju, anak-anak belajar secara aktif dari TK).

Salam Pendidikan

Abdul Karim :

re : “saya hanya ingin kita melaksanakan pendidikan yang terbaik dan dapat mengembangkan kita sebagai bangsa yang cerdas (bukan robot) di dalam kelas.”

sayangnya pak Philip, selama ini ‘tanpa teknologi atau e-learning pun’, di sekolah-sekolah di Indonesia yang terjadi adalah pendidikan yang menghasilkan output ‘robot-robot’ yang tidak cerdas. 🙂

Philip Rekdale :

Mengapa ingin tambah dengan e-learning? Sudah waktu untuk mengaktifkan otak-otak pelajar-pelajar kita, bukan mengulangkan pembelajaran-pasif. Kapan kita akan maju?

Abdul Karim :

Ok pak Philip terima kasih untuk diskusi yang mencerdaskan ini. O ya saya minta izin untuk mengcopy paste diskusi ini di blog saya. Salam Pendidikan!

Philip Rekdale :

Terima kasih. Saya juga sangat enjoy.
Silakan mengcopy diskusi ini.
Semoga Sukses!

Keterangan gambar : Pak Philip Rekdale – Pakar Teknologi Pendidikan

Blog “Jelajah Matematika”

Salam bagi pengunjung blog ini!

Tulisan ini merupakan posting pertama, setelah blog https://abdulkarim.wordpress.com saya “make over”.  Judul dari blog ini saya ubah, sebelumnya “Kareem Math and Multimedia Tutor” menjadi “Jelajah Matematika”.  Meskipun area yang akan disentuh tetap sama, yaitu Matematika dan Multimedia, tetapi ada perubahan dalam orientasi. Sekarang saya akan fokus dalam pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran matematika, meskipun demikian saya akan tetap meluangkan waktu dan tenaga untuk  berbagi dengan guru-guru mata pelajaran lain berupa tutorial pembuatan MPI, pembuatan template dan lain-lain, jangan khawatir … 🙂

Mengapa judul blognya “Jelajah Matematika”?. Saya mengambil kata jelajah untuk padanan kata bahasa inggris, ‘explore’ yang bermakna menyelidiki, menjelajah, memeriksa, mengadakan penyelidikan atau mengedari [Google Translate], dan menurut http://www.merriam-webster.com/dictionary/explore

Dengan judul ‘Jelajah Matematika’, saya hendak menggambarkan, memberikan cara pandang dan mewacanakan kepada para pengunjung blog ini bahwa matematika adalah sebuah subyek yang luas, menarik dan menantang. Kata ‘Jelajah’ di sini, menyiratkan juga bahwa saya akan menggunakan teknologi dalam penyelidikan terhadap konsep-konsep matematika, agar kita terhindar dari ‘rutinitas’ menghitung yang sering membuat bosan murid-murid dalam pembelajaran matematika di kelas. Matematika tidak sama dengan ‘menghitung’, matematika adalah sebuah subyek pelajaran yang jauh lebih luas dari sekedar menghitung. Jadi pertanyaannya, mengapa guru dan murid selalu menghabiskan setiap pertemuannya dengan hanya sekedar hitung menghitung? … bahkan salah satu dosen saya di ITB dulu (Prof Bana Kartasasmita) pernah mengatakan “bahwa urusan menghitung adalah pekerjaan  kuli”. Di blog ini juga (dengan segala daya upaya yang akan saya kerahkan) saya akan memberikan contoh-contoh penggunaan teknologi dalam pembelajaran matematika. Tegasnya saya ingin mempengaruhi dan mengarahkan pendidikan matematika di Indonesia untuk menggunakan Teknologi dalam pembelajaran. Kondisi dan situasi sudah jauh berubah. Saya ingin guru-guru matematika di Indonesia tidak ‘gagap teknologi’. Menurut hasil survey bank dunia dalam “Inside Indonesia’s Mathematics Classrooms”, Indonesia merupakan negara yang terendah dalam penggunaan teknologi (kalkulator) dalam pembelajaran matematika. (karena di ujian nasional tidak diperbolehkan?)

Apa rujukan saya untuk penggunaan teknologi dalam pembelajaran matematika? Saya hanya seorang guru matematika di SMP-SMA, saya bukan periset atau peneliti pendidikan matematika, tapi mengapa saya berani melawan arus pendidikan matematika di Indonesia pada umumnya?. Jawabannya yang pertama, intuisi saya (sebagai seorang pendidik yang gelisah terhadap perkembangan pendidikan matematika di Indonesia saat ini). Jujur saja saya mengatakan bahwa pendidikan matematika di Indonesia tidak jelas, kalau tidak mau dikatakan kacau balau, salah satu penyebab utamanya adalah Ujian Nasional Matematika (saya tidak akan membahas hal ini di sini). Matematika merupakan subyek yang sangat populer di dunia ini, dalam berbagai bidang keilmuan dan kehidupan, tetapi tidak di “sekolah” khususnya di Indonesia, semakin banyak anak-anak yang tidak suka dengan Matematika. Jawaban yang kedua, saya merujuk kepada standar yang ditetapkan oleh asosiasi guru matematika di Amerika Serikat (NCTM), karena Indonesia tidak mempunyai standar tentang penggunaan teknologi dalam pembelajaran matematika.

NCTM Position :

Technology is an essential tool for learning mathematics in the 21st century, and all schools must ensure that all their students have access to technology. Effective teachers maximize the potential of technology to develop students’ understanding, stimulate their interest, and increase their proficiency in mathematics. When technology is used strategically, it can provide access to mathematics for all students.

Calculators and other technological tools, such as computer algebra systems, interactive geometry software, applets, spreadsheets, and interactive presentation devices, are vital components of a high-quality mathematics education. With guidance from effective mathematics teachers, students at different levels can use these tools to support and extend mathematical reasoning and sense making, gain access to mathematical content and problem-solving contexts, and enhance computational fluency. In a well-articulated mathematics program, students can use these tools for computation, construction, and representation as they explore problems. The use of technology also contributes to mathematical reflection, problem identification, and decision making.

The use of technology cannot replace conceptual understanding, computational fluency, or problem-solving skills. In a balanced mathematics program, the strategic use of technology enhances mathematics teaching and learning. Teachers must be knowledgeable decision makers in determining when and how their students can use technology most effectively. All schools and mathematics programs should provide students and teachers with access to instructional technology, including appropriate calculators, computers with mathematical software, Internet connectivity, handheld data-collection devices, and sensing probes. Curricula and courses of study should incorporate instructional technology in learning outcomes, lesson plans, and assessments of students’ progress.

sumber :  http://www.nctm.org/about/content.aspx?id=14233

Harapan saya, dengan “Jelajah Matematika”, saya bisa sedikit mewarnai pendidikan matematika di Indonesia. Mencerahkan dan membalikkan pandangan guru-guru matematika di Indonesia yang selama ini ‘anti Tekonologi’, (mudah-mudahan bukan karena ‘Gaptek’ … 🙂   Semoga blog ini dapat memberikan manfaat bagi guru-guru matematika khususnya dan komunitas pendidikan di Indonesia pada umumnya.

Selamat berbagi dan berkarya!